Silvano Hajid

Pribumi Jakarta Butuh Cinta

If you wanna make the world a better place, take a look at yourself and make a change…

Itu lagunya Michael Jackson, Man In The Mirror, yang mungkin saja sangat berkaitan dengan pidato Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

Jangan panas dahulu, lebih baik kita cermati baik-baik pidatonya: Make Pribumi Great Again! menurut saya ini lelucon paling nggak lucu dari seorang gubernur mantan menteri pendidikan dan sebelumnya mencetus Indonesia Mengajar.

Kalau untuk Jakarta, saya rasa tidak ada yang benar-benar pribumi. Gubernurnya keturunan arab, saya atau mungkin anda adalah pendatang. Saya bukan warga asli Jakarta, hanya mencari rezeki dan kebetulan hidup di Jakarta.

Tetapi pahamilah bahwa tinggal dan hidup di Jakarta itu berkah bagi saya untuk memahami perbedaan. Bayangkan, dalam satu hari saya bisa bertemu puluhan suku dan ras yang berbeda. India, Cina, arab, kaukasia, bahkan negro! Belum lagi kalau bertemu orang Sunda, Batak, Bugis, Jawa, Papua, Timor, itu semua dapat terjadi di jakarta! Bagi saya adalah berkah karena dari situlah kita bisa dapat banyak keuntungan: wawasan, pengetahuan sosial, joke sampah yang agak rasis antar suku dan ras (yang kadang justru menghangatkan suasana, dan sesekali berakhir ribut) bahkan untuk berbisnis.

Jadi siapa sebenarnya pribumi? dalam konsep kekinian, yang menghuni Jakarta adalah pendatang. Kita kenal suku Betawi sebagai etnis asli Jakarta, namun pahamilah bahwa menurut Lance Castles yang pernah meneliti tentang Penduduk Jakarta dalam Jurnal Penelitiannya yang diterbitkan tahun 1967 oleh Cornell University, secara biologis, mereka yang mengaku sebagai orang Betawi adalah keturunan kaum berdarah campuran aneka suku dan bangsa yang didatangkan oleh Belanda ke Batavia. Kelompok etnis ini lahir dari perpaduan berbagai kelompok etnis lain yang sudah lebih dulu hidup di Jakarta, seperti orang Sunda, Melayu, Jawa, Bali, Bugis, Makassar,dan Ambon, serta suku-suku pendatang, seperti Arab, India, Tionghoa, dan Eropa.

Kebetulan, pertengahan tahun 2017, saya sempat membuat documentary tentang Rock Art, atau Lukisan Cadas yang dibuat oleh penghuni terdahulu ribuan bahkan puluhan ribu tahun lalu di Sangkulirang, Kalimantan Timur. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa Rock Art di Maros, adalah yang tertua di Dunia, usianya 40 ribu tahun. nah, Balai Pelestarian Cagar Budaya, di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sudah melakukan penelitian asal-usul nenek moyang kita berdasar bukti Rock Art yang tersebar di Indonesia. Menteri Pendidikan yang masih menjabat atau yang sudah jadi mantan, seperti Gubernur DKI Jakarta yang baru dilantikpun pasti mengetahuinya. Saya berterima kasih kepada para arkeolog, yang susah payah mengikuti remah jejak nenek moyang kita.

Para ilmuwan di China menemukan fosil homo sapiens berusia ratusan ribu tahun, ada kaitannya dengan teori out of Africa, ini tercatat dalam Chinese science journal Acta Anthropologica Sinica. Indikasinya, manusia modern mulai berkembang di China.

Tapi ini masih butuh pembuktian. Karena selain teori out Africa, adapula teori alternatif out of Asia.

nah kalau dilihat dari grafis, paparan waktu dan pola migrasi sudah terlihat jelas kan semua manusia yang menghuni Indonesia awalnya adalah imigran. Termasuk Jakarta.

Andaikan Pidato pak Anies menyebutkan tentang kolonialisme modern dengan data dan angka ekonomi yang jelas, maka dia akan lebih mulia secara akademis tanpa memperlihatkan sentimen sara.

Kalau yang dianggap sebagai pribumi adalah orang-orang yang berkulit sawo matang, dan mereka banyak yang susah dibanding orang-orang berkulit kuning, yakinlah, semua dimulai dari kerja keras, dan si sawo matang juga harus belajar dari si kulit kuning bagaimana menghasilkan cuan yang halal!

Menyebutkan sentimen pribumi sama saja seperti memberikan karpet merah kepada siapapun yang merasa menjadi pribumi dan berharap diperlakukan istimewa.

Bad words by Anies Baswedan really hurts…

Saya rasa Jakarta butuh cinta. Saya Silvano Hajid, nenek moyang saya adalah imigran, saya tinggal dan hidup di Jakarta.

Share this:

Leave a Reply